Hampir 5 bulan Papa pergi.. berpulang kepada Sang Pencipta. Pada 20 April yang lalu kabar mengejutkan saya terima dari kakak laki2 saya yang tinggal di Jakarta bahwa Papa sudah tidak bersama kami. Tidak percaya, itu perasaan yang ada, tapi setelah mendengar suara adik perempuan saya paling kecil yang menangis histeris via telpon, dan suara mama yang panik jadi latar belakang percakapan kami, mau tidak mau berita itu harus saya terima.
Masih dengan setengah bengong, saya menyampaikan berita tersebut kepada adik perempuan yang kuliah di Mataram. Terisak, sedih, dan setengah tidak percaya menjadi urutan reaksi yang saya dengar. Sekitar jam 10.15 PM berita itu datang, tetapi sampai jam 11 PM saya masih tidak tau harus berbuat apa.
Saya tau mama panik, tapi saat itu saya dalam kondisi tidak tau harus berbuat apa, saya tidak menangis, dan tidak berbuat apa-apa, hanya bengong dikamar dan benar2 tidak tau harus berbuat apa. Akhirnya saya memutuskan harus mengusik mama dengan suara telpon, tanpa ide yang jelas saya harus mulai darimana.
Nada sambung terus menerus akhirnya membuat rasa panik mulai tumbuh. Setelah sekian lama akhirnya rasa takut juga mulai datang. Panik dan takut sekejap membuat saya sedih karena semakin bingung tidak tau harus berbuat apa. Dengan pasrah akhirnya saya mengirim sms untuk mama, dengan text “mama..” karena tidak terpikir mau sms apa.
Dalam diam saya duduk ditempat tidur menunggu, sms-sms dari teman2 masuk satu persatu, entah darimana mereka mendapatkan kabar, saya bisa merasakan ketulusan dibalik semua kata-kata yang terkirim untuk saya, perasaan haru seketika datang saat melihat dering telpon dari mama, terus terang saya tidak ingat bicara apa saat itu, tapi mama mungkin sudah terbiasa, dan sigap memberi arahan agar saya bersiap2 untuk mencari pesawat paling pagi.
Pagi buta, saya duduk menunggu taksi didepan kos, pertama kalinya saya merasakan duduk dibangku kayu yang biasanya menjadi tempat ngobrol2 warga veteran gang Vc, warung kopi didepan kos yang biasanya selalu ramai saat itu kosong, hanya ada saya dan malam yang belum sepenuhnya meninggalkan hamparan langit. Suasana saat itu semakin menambah perasaan sepi, saat itu harapan saya hanyalah mendapatkan tiket pesawat sby-mtrm pukul 6.00 AM.
Sampai dibandara saya harus menghadapi kenyataan pahit, bahwa tidak ada pesawat pagi untuk sby-mtrm, calo-2 tiket yang ngotot untuk menawarkan bantuan semakin membuat perasaan saya kacau. Saya duduk dengan perasaan setengah putus asa, saya mencoba menelpon beberapa teman untuk meminta bantuan dan informasi, tetapi tetap tidak menemukan solusi, ditengah kegundahan yang mulai mengguncang kondisi saya, telpon dari mama berdering lantang, nada putus asa mulai terdengar saat saya menyatakan tidak ada pesawat pagi, kemudian adik laki-laki Papa mulai bicara dari seberang telpon, bahwa tidak mgkn bagi saya untuk ikut melepas kepergian Papa, memaksakan diri dan keadaan agar bertemu jasad Papa untuk yang terakhir kali bukan suatu hal yang baik bagi Papa, dengan penuh kesadaran saya menjawab “iya”, dengan sepenuh hati saya menerima bahwa Papa akan dimakamkan pukul 10.00 AM WITA. Tanpa sengaja air mata mulai bergulir satu-persatu, air mata yang sebenarnya sejak semalam saya pertanyakan didalam hati.
Setengah berlari saya berusaha mencari tiket dari ujung bandara Juanda yang satu ke ujung lainnya. Dalam kepasrahan saya justru menemukan kekuatan untuk mencari alternatif penerbangan melalui Bali agar bisa connecting dengan pesawat Mataram-Sumbawa pukul 9.15 AM Yup, surabaya-mataram adalah tahap awal dari perjuangan saya, karna perjuangan yang sebenarnya adalah sampai di Sumbawa sebelum pukul 10.00 AM
.
Jawaban2 yang ada mulai membuat saya marah, akankah saya menyerah, ataukah saya masih kurang berusaha? pilihan untuk pasrah mengantar saya ke salah satu maskapai penerbangan, saya putuskan untuk mengambil jadwal 11.30 AM sby-mtrm seperti rata2 penerbangan di semua maskapai, jawaban “Full” membuat saya benar2 marah, saya sadar calo-calo yang bertebaran mulai tidak sabar dengan penolakan saya. Jawaban “Full” dengan pandangan waspada membuat saya curiga, marah dan membuat saya ingin mengikat para calo dibangku bandara agar mereka mengikhlaskan saya untuk mencari alternatif penerbangan Jawaban “Full” yang penuh tanda tanya kembali membuat saya ragu, apakah sebenarnya kesempatan itu masih ada??. Saya berusaha untuk terakhir kalinya, dengan kesimpulan akhir: connecting melalui Bali sudah tidak ada lagi yang pas, hanya membuat saya sampai di Mataram lebih sore daripada penerbangan langsung sby-mtrm. Kenyataan tersebut lebih pahit, karena beberapa maskapai kembali menolak saya dengan kata2 “Full”, sedangkan kerumunan calo mengikuti kemanapun langkah saya pergi.
Dengan emosi yang tidak stabil, saya kembali ngotot diloket Merpati sambil berusaha menahan tangis dan entah kenapa, akhirnya mereka memberi jawaban “Ada”, tiket yang akhirnya ada ditangan saya membuat saya tidak mampu lagi menahan air mata terima kasih dan maap sebesar2nya untuk mas penjaga loket Merpati, karena beberapa kali agak saya bentak terkait alternatif connecting dari Bali :p
Diruang tunggu keberangkatan, saya berusaha mengatasi emosi saya yang sangat tidak stabil, saya sadar akhirnya emosi saya bangkit, mungkin sejak mama menelpon saya pagi itu dibandara, karena hal tersebut menandakan Papa benar2 sudah tidak ada didunia ini hanya Tuhan yang tau, betapa saat itu saya berharap dokter dirumah salah diagnosa betapa tidak.. ? Papa meninggal tanpa mengalami sakit keras terlebih dahulu, sejak pagi Papa masih menjadi dokter jaga di Klinik yang ditangani Papa di Sumbawa, siang kembali kerumah dengan keadaan sehat, makan, ngobrol dgn Mama dan Nina, serta nonton TV seperti biasa, malam saat akan kembali untuk jaga di Klinik, tiba2 serangan jantung itu datang dengan gambaran kesakitan yang sangat luar biasa padahal Papa bukan perokok dan tidak pernah menyentuh minuman beralkohol
walaupun dalam kondisi kesakitan, tapi Papa masih bisa berkomunikasi dengan baik, dan dengan kesadaran yang sempurna, kondisi tersebut bahkan membuat Mama dan Nina tidak berpikir terlalu jauh, panik tentunya, agar kesakitan Papa cepat berlalu, tetapi bukan rasa panik karena merasa akan ditinggalkan Papa.
Saat itu sekitar jam 7.00 AM, dengan perasaan sedih saya berjalan berusaha mencari Lounge yang sepi sebagai antisipasi jika saya tiba2 menangis diluar kendali, dengan tampang sedikit mikir didepan Platinum Garuda Lounge dan mgkn sedikit blo’on saya bertanya2 didalam hati, apakah garuda executive lounge untuk Platinum member bisa menerima cash.. karna disana hanya ada 2 orang saja.. :p beruntung mgkn saja, tiba2 ada salah satu petinggi sisfo dgn jadwal pagi menyapa saya dari belakang, dan kemudian mengajak saya masuk karna memiliki jatah untuk 2 orang. Saya ikut saja, karena sekaligus saya harus ijin dari kantor bukannya tidak bertanggung jawab, tapi tau sendiri semalaman saya gak tau harus berbuat apa..
setelah dengan sangat susah payah saya berusaha bicara untuk minta ijin pulang karena Papa meninggal, hanya sampai kata ‘Papa’, sedangkan kata ‘meninggal’ tidak bisa keluar, si bos harus menunggu 1 jam kemudian untuk tau kenyataannya akhirnya saya tidak bisa diajak komunikasi lagi oleh bos saya tersebut, karena sisa waktunya saya kembali menangis, terutama sekitar jam 10.00 AM WITA – saat2 Papa akan dimakamkan
1 Syawal 1432 H, kami sekeluarga kembali mengunjungi makam Papa, masih dengan tambahan 1 anggota baru yaitu Ara, cucu pertama dikeluarga kami, saat itu seharusnya menjadi saat pertama kali pertemuan Papa dengan cucu laki2 tercinta, tapi Tuhan berhendak lain, Ara bahkan tidak bisa mengejar jasad kakeknya, baik saya maupun Mas Yogi kakak laki2 saya, sampai dirumah malam hari setelah Papa dimakamkan.
Kesedihan yang saya rasakan masih sama persis dengan saat pertama kali berita itu datang. Saya ikhlas dengan kepergian Papa, tapi air mata mungkin juga mengandung arti lainnya, satu kesalahan yang selalu saya sesali, yang hanya bisa saya akui didepan Mama dengan tangisan yang meraung2 sehari setelah Papa diantar ke peristirahatan terakhir. Kesalahan kecil yang sangat berarti buat saya, diam tak selamanya emas, dengan diam saya telah melakukan kesalahan yang paling kejam yang masih saya sesali sampai detik ini. Kini saya tidak mampu lagi menciptakan kesempatan untuk berbincang dengan Papa, kesempatan untuk mohon ampun, kesempatan untuk membalas hutang budi sebagai anak.
“Kalau Papa waktu itu dibawa ke Rumah Sakit, kira2 Papa bisa sembuh gak ya Ma?”, tanpa maksud menuduh atau menyalahkan pertanyaan itu meluncur keluar dari mulut saya, sedetik kemudian saya sadar bahwa itu adalah pertanyaan yang benar2 salah, apalagi untuk dilontarkan di hari kedua setelah kepergian Papa jawaban Mama membuat saya terdiam, tentu saja mama sudah melakukan yang terbaik, saya percaya, dan saya selalu melihat buktinya, dan tentu saja saya tidak meragukan keputusan Papa untuk tetap tinggal dirumah, Papa lebih tau keadaan saat itu, dan Mama sudah melakukan yang terbaik untuk Papa. Apapun itu, Papa sudah memutuskan, walaupun sebenarnya Rumah Sakit hanya sejengkal dari tembok rumah kami Yup, rumah kami saat itu persis disebelah UGD RSU Sumbawa, dan Papa adalah dokter paling senior saat itu, dan juga merupakan putra daerah, pernah menjadi Kepala RSU dan sisa masa jabatannya sebagai Kadinkes, saya pikir hal2 tersebut cukup untuk memperoleh prioritas sesuai hak2nya, seperti hak-hak lainnya yang selama ini tidak pernah Papa tuntut Abang Lukman yang waktu itu juga ada diruangan tiba2 bersuara, “apa? apa tadi?” kemudian Bang Luk mengutip ayat Al-Qur’an yang isinya kurang lebih merupakan Al-’A`rāf ayat 34:
Surat Al-’A`rāf: 34
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Sahih International:
And for every nation is a [specified] term. So when their time has come, they will not remain behind an hour, nor will they precede [it].
Indonesian:
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Ikhlas dan tabah adalah beberapa hal yang bisa kami lakukan. Dengan kesedihan dan penyesalan yang demikian, seminggu kemudian kurang lebih saya bermimpi Papa, dalam mimpi saya, Papa tidak berniat bicara banyak hal, hanya tersenyum, dan senyumnya adalah senyum yang jarang sekali saya lihat, matanya juga memancarkan senyum kepada saya, tanpa pikiran apapun terlintas dibenaknya, hanya tersenyum, sambil memegang perutnya, seakan2 senang dengan kondisi badannya yang waktu itu terlihat sangat sehat saat itu saya berusaha berkata2 banyak hal, dalam kondisi panik seingat saya, saat itu Papa hanya berkata satu hal, “iya, saya rasakan Nana datang, tapi lamaa..”, dan memang benar, kenyataannya hanya Nana dari Mataram yang sempat mengejar Jenazah Papa. Saat terbangun saya berusaha mengingat perasaan saya dalam mimpi, perasaan paling bahagia yang pernah saya rasakan.
Walau demikian, penyesalan terkadang kembali muncul dipermukaan, dan terkadang saya tidak berani membayangkan kondisi Papa disana, saya menangis dan berdo’a agar Papa diberikan yang terbaik disana. Kemudian beberapa cerita tentang mimpi muncul dari beberapa kenalan Mama dan Papa, dan semuanya hampir sama, bahwa mereka melihat Papa didalam rumah yang megah, cerita itu sedikit menenangkan. Dan perasaan haru saya terhadap masyarakat Sumbawa, bahwa Papa merupakan sosok yang baik di mata mereka, saya tidak bisa melihat langsung tetapi dari beberapa teman juga mama, bahwa teman saya baru kali itu melihat banyaknya orang2 yang mengantarkan jenazah, bahwa Mama sempat terkejut sewaktu mulai keluar dari rumah dan melihat mereka yang ingin ikut mengantarkan Papa sedemikian banyaknya, dan beberapa kali shalat jenazah dilakukan dirumah untuk Papa, bahkan permintaan khusus agar jenazah Papa dimampirkan ke Mesjid Amal Bakti Pancasila jika belum ada perubahan nama :p karena sedemikian banyaknya yang ingin ikut dalam shalat jenazah untuk Papa.
Papa tidak mengajarkan hal2 yang dilakukan olehnya kepada kami anak2nya secara lisan, bahkan kami jarang berinteraksi sebagai Papa dan anaknya salah satu kekurangan Papa, jarang komunikasi dengan kami anak2nya :p tetapi kami anak2nya merasakan segala perbuatannya melalui contoh2 yang secara alami menjadi cerminan keyakinannya setiap harinya. Satu hal yang menjadi contoh besar dari Papa adalah tidak mengambil suatu apapun yang bukan menjadi hak kita, dan saya rasa semua orang mengakui Papa merupakan salah satu pejabat yang tidak menyentuh hal2 berbau korupsi, bahkan beberapa orang berkata kepada saya bahwa Insya Allah Papa termasuk orang2 yang selamat, jika mengingat perjalanan hidupnya selama ini آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن
Papa mungkin merupakan tokoh masyarakat Sumbawa yang perlu menjadi teladan, tetapi Papa tetap adalah seorang manusia yang punya banyak kekurangan, perhatiannya untuk orang lain biasanya lebih diutamakan dibandingkan memberikan perhatiannya untuk keluarga. Hal itu sangat kami sadari, dan sebisa mungkin kami pahami dan kami terima, hanya saja terkadang timbul kesulitan tersendiri dalam menanggapi kenyataan tersebut. Hal tersebut yang kemudian mengantarkan saya kepada kesalahan terbesar saya terhadap Papa, yang sampai saat ini masih saya tangisi. Sampai saat ini saya masih berharap dapat menyampaikan permohonan maaf saya kepada Papa, dan mohon ampun jika saya tidak cukup berbakti kepada Papa. Dari seorang sahabat saya mendapat 2 potongan ayat untuk mengurangi kecemasan dan kesedihan saya:
Surat Nūĥ: 28
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
Sahih International:
My Lord, forgive me and my parents,
Indonesian:
Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku,
Surat Al-’Isrā’: 24
وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Sahih International:
and say, “My Lord, have mercy upon them as they brought me up [when I was] small.”
Indonesian:
dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
Untuk Papa dan Mama, I love you both equally.
Tulisan ini saya buat untuk mengenang Papa saya tercinta Ziad Umar, mudah2an Papa sudah menerima permintaan maaf dari Neni, dan semoga amal ibadah Papa diterima oleh Allah SWT, serta mendapatkan tempat yang terbaik disisi Allah SWT – آمِيْنُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن